Oleh: MUNANDAR WIJAYA
TERDAPAT dua belas bulan dalam Hijriah ataupun dalam Masehi. Itu sudah menjadi semacam Sunnatullah. Dari dua belas bulan itu, ada satu bulan yang dikhususkan oleh Khaliq, Sang Pencipta. Dialah bulan Ramadhan. Bulan yang disucikan. Bulan yang diistimewakan.
Ia khusus, ia suci, dan ia istimewa lantaran dalam Ramadhan inilah empat rukun Islam terejawantahkan dan termanifestasikan sekaligus. Empat rukun itu yakni syahadat, sholat, zakat, dan puasa itu sendiri. Sedangkan satu rukun lagi yakni haji, ia dilaksanakan di bulan yang lain, bulan Dzulhijjah atau kita orang awam biasa menyebutnya bulan haji. Bulan haji juga terdapat keistimewaannya sebab begitu banyak ibadah dan amalan-amalan penting yang secara langsung bisa ditunaikan di tanah Haram (suci), di Mekkah Al Mukarramah.
Menurut saya, nilai dan keutamaan Ramadhan itu menyeruak dalam kehidupan manakala senantiasa diperbanyak hal-hal positif, salah satunya yang saya persepsikan sebagai “amalan terkecil” adalah dengan saling mengabarkan kebajikan, walau dalam bentuk tulisan semacam ini misalnya.
Ada tiga level atau tingkatan keutamaan Ramadhan dalam perspektif kadar amalannya. Sabagai bulan pengampunan, bulan di mana terbukanya pintu rezeki sebesar-besarnya, dan bulan di mana terdapat satu malam lailatulqadar (yang dijanjikan di malam-malam ganjil pada sepuluh Ramadhan terakhir, yang telah ditegaskan bahwa ibadah di malam ganjil itu lebih baik dari seribu bulan).
Tapi jangan salah. Kepada siapa yang akan memperoleh keutamaan (dan juga keberkahan) untuk tiga level kekuatan amalan di Ramadhan ini? Tentunya tidak semua orang Muslim. Hanya pada orang yang beriman, yang benar-benar tawadhu, khusu’ dalam setiap ibadahnya yang berhak diganjar tiga faedah dan keutamaan dalam Ramadhan ini.
Tulisan singkat ini sekadar sambung rasa kepada kawan-kawan dan kerabat yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagai selingan waktu dari kesuntukan menjalankan ibadah-ibadah wajib dan sunnah pada siang menjelang petang ini, maka salah satu “pelarian” biasanya adalah telpon pintar untuk kemudian berselancar dengan fasilitas internetnya.
Nah, bagi kawan dan kerabat (di Sulawesi Barat ini) yang sedang membaca goresan singkat ini, relakanlah waktunya untuk singgah di rumah (rumah jabatan pimpinan DPRD Sulbar di Rangas). Di sini kita bisa “menggenapkan” ibadah puasa atau berbuka bersama, yang walau sekadar seteguk teh hangat dan penganan ala kadarnya.
Berbuka puasa tak perlu tergelar istimewa dengan segala jenis makan-minum yang “ditolak lambung”. Menyeduh segelas teh atau kopi hangat sembari magrib berjamaah, dan setelahnya akan terasa nikmat mengisi waktu berdiskusi sambil menunggu isya dan tarwih tiba. Sudihlah mampir ke sini, rumah yang selalu terbuka untuk siapa saja, warga Sulawesi Barat. Selamat berbuka.
Wassalam,
Mamuju, 10 Juni 2016 (05 Ramadhan 1437 Hijriah)

Facebook Comments

4 KOMENTAR

  1. I needed to send you that very little observation to thank you so much as before about the great guidelines you’ve contributed in this case. This is so extremely open-handed with you to present easily exactly what a few individuals would have supplied for an e book to help make some bucks for their own end, chiefly considering the fact that you might well have tried it if you wanted. Those creative ideas as well served to become a good way to be aware that other people have a similar keenness like mine to understand great deal more when considering this problem. I know there are millions of more pleasant occasions ahead for people who browse through your website.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here